LIPUTAN KAMPUS

STAI Asy-Syuhada Hadirkan Prof. Sahiron, Teguhkan Semangat Ilmu, Tradisi, dan Pengabdian untuk Umat

Dipublikasikan: 01-09-2026
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asy-Syuhada Pelaihari menghadirkan Prof. Dr. Phil. H. Sahiron Syamsuddin, MA dalam kegiatan Stadium General Mahasiswa Angkatan Pertama. Sabtu (29/08/2026) Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa perdana STAI Asy-Syuhada untuk memperkuat wawasan keislaman, semangat menuntut ilmu, serta komitmen dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Dalam pemaparannya melalui zoom, Prof. Sahiron menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban memberikan akses pendidikan seluas-luasnya kepada seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Namun, menurutnya, pembangunan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Para ulama dan kiai juga memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendirian pesantren, sekolah tinggi, institut hingga universitas.

“Para kiai turun tangan untuk mendirikan pesantren dan sekolah tinggi, institut dan universitas. Ini adalah satu kontribusi yang tidak ternilai harganya. Mudahan menjadi sedekah jariah” ungkap Prof. Sahiron.

Ia menilai, kehadiran STAI Asy-Syuhada Pelaihari merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperluas akses pendidikan tinggi keagamaan Islam bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Tanah Laut dan sekitarnya. Lembaga pendidikan yang dibangun dengan niat pengabdian kepada umat diharapkan dapat terus memberikan manfaat dan melahirkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus akhlak yang baik.

Prof. Sahiron yang juga merupakan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam memberikan apresiasi atas berdirinya STAI Asy-Syuhada Pelaihari. Ia berharap perguruan tinggi yang baru memulai kiprahnya tersebut dapat terus berkembang dan menjalankan seluruh proses akademik sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Ia juga berpesan kepada Ketua STAI Asy-Syuhada Pelaihari, Dr. H. Abdul Ghofur, S.H., M.Kn., beserta seluruh jajaran untuk terus menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan.
“Terus maju dan jalankan sesuai regulasi, Pak Ketua, Dr. Abdul Ghofur,” pesannya.

Di tengah perkembangan pendidikan tinggi yang semakin modern, Prof. Sahiron juga mengingatkan agar tradisi keilmuan Islam tidak ditinggalkan. Salah satunya adalah kajian kitab kuning yang menjadi bagian penting dalam khazanah pendidikan pesantren.
“Dan jangan lupa, kitab kuning jangan ditinggalkan,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar STAI Asy-Syuhada mampu memadukan perkembangan ilmu pengetahuan modern dengan kekayaan tradisi intelektual Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sahiron juga mengingatkan kembali mahasiswa baru mengenai nasihat Imam Syafii tentang enam syarat bagi seseorang yang ingin memperoleh ilmu. Keenam syarat tersebut dikenal melalui ungkapan:
“أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ
وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانِ”
Yang bermakna bahwa untuk memperoleh ilmu diperlukan kecerdasan, semangat atau kesungguhan, kesabaran/ketekunan, bekal, bimbingan guru, serta waktu yang panjang.

Nasihat tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa angkatan pertama STAI Asy-Syuhada agar tidak mudah menyerah dalam menjalani proses perkuliahan. Menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, adab kepada guru, serta kesabaran.
Kembali Sebelumnya